Sunday, May 16, 2010

Rumah Tradisional Banjar

Bentuk dari berbagai macam rumah tradisional tiap daerah biasanya dipengaruhi oleh lingkungan alam sekitarnya. Pengaruh ini bisa berupa sumber daya alam yang tersedia, bentuk daratan atau cuaca yang terjadi di daerah tersebut. Di Kalimantan Selatan yang merupakan daerah tropis dengan hutan yang banyak, tersedianya berbagai macam jenis kayu mempengaruhi bahan bangunan tradisional yang ada. Kemudian jenis tanah di Kalimantan Selatan yang cenderung berawa memberikan pengaruh kepada bentuk pondasi.

Pada daerah Kerajaan Banjar masa lalu, sungai adalah sarana yang sangat penting bagi jalur komunikasi dan transportasi. Hal ini menyebabkan begitu banyaknya bangunan-bangunan yang dibuat di sepanjang aliran sungai pada waktu itu. Mengingat daerah pinggiran sungai mempunyai jenis tanah yang rendah dan berair maka bangunan tersebut harus mempunyai bentuk pondasi yang mantap untuk menyokong bangunan di atasnya.
Untuk pondasi biasanya dipakai kayu galam yang banyak terdapat di sepanjang rawa Kalimantan. Kayu galam ini mempunyai sifat yang khusus sehingga sangat pas untuk dijadikan bagian pondasi bangunan rumah di sepanjang pinggir sungai. Sifat kayu galam adalah semakin terendam maka kekuatannya menjadi awet. Kayu galam yang terendam di lumpur terus menerus mempunyai kekuatan sampai puluhan tahun.

Teknik pemasangan pondasi ini ada dua cara, yaitu:
1. Pondasi Batang Besar, apabila pondasi yang dipilih adalah pondasi batang besar maka digunakan teknik kalang pandal. Kayu yang digunakan biasanya berdiameter 40 cm lebih. Caranya, kayu besar ditoreh bagian atasnya sampai rata kemudian bagian yang ditoreh itu dilobangi untuk tempat menancapkan tiang dan tongkat. Setelah itu bagian ini akan direndamkan ke dalam tanah dengan kedalaman 50 - 100 cm tergantung kondisi tanah. Batang disusun berjejer sesuai dengan deretan tongkat dan tiang rumah yang akan dibangun. Untuk menahan tiang atau tongkat agar tidak terus menurun maka dipakai sunduk.

2. Pondasi Dengan Batang Kecil, kayu galam yang digunakan dalam pondasi ini biasanya berdiameter minimal 15 cm untuk tampuk ujung dan sekitar 20 cm untuk tampuk tengahnya. Cara pemasangannya agak berbeda dengan cara batang besar yang hanya satu lapis. Untuk pondasi batang kecil ada dua lapis, bagian bawah disebut Kacapuri dan lapisan atas disebut kalang sunduk, yaitu untuk penahan sunduk tiang atau sunduk tongkat. Ujung tiang atau tongkat tertancap hingga kedalaman dua meter dari permukaan tanah.

Demikian garis besar pembuatan pondasi pada rumah tradisional Banjar, pondasi sederhana sesuai dengan perkembangan zaman pada masa itu. Kalau ada teman-teman insinyur sipil/arsitek yang lebih mengetahui semoga bisa menambahkan beberapa materi untuk tulisan ini.

Demikian garis besar pembuatan pondasi pada rumah tradisional Banjar, pondasi sederhana sesuai dengan perkembangan zaman pada masa itu. Kalau ada teman-teman insinyur sipil/arsitek yang lebih mengetahui semoga bisa menambahkan beberapa materi untuk tulisan ini.