Tuesday, June 08, 2010

BAHAN PEMBENTUK BETON

Secara umum beton tersusun dari tiga bahan pembentuk yaitu:SEMEN,AGREGAT HALUS (PASIR), AGREGAT KASAR (KORAL,BATU PECAH/SPLIT), AIR, BAHAN TAMBAHAN KIMIA (JIKA DIPERLUKAN)
SEMEN
1. Semen Non-Hidrolik adalah semen yang tidak dapat mengikat dan mengeras di dalam air. Contoh jenis semen ini adalah kapur.

2. Semen Hidrolik, Semen yang mempunyai kemampuan untuk mengikat dan mengeras di dalam air. Contoh semen jenis ini antara lain:kapur hidrolik, semen pozollan, dan semen portland

2.1.Kapur hidrolik,
a. Bahan Kapur hidrolik sebagian besar (65-75%) terbuat dari batu gamping yaitu kalsium karbonat beserta bahan pengkutnya:silika, alumunium, magnesia dan oksida besi.
b. Cara pembuatannya Batu kapur yang mengandung silika dan lempung dibakar sampai menjadi klinker dan mengandung cukup kapur dan silika untuk menghasilkan kapur hidrolik yang berbentuk kapur tohor setelah berhubungan dengan air.
c. Sifat-Sifat Kapur Hidrolik Kapur hidrolik bersifat hidrolik, namun tidak cocok untuk bangunan-bangunan di dalam air,karena dalam proses pengerasannya membutuhkan udara.

Sifat umum kapur hidrolik adalah:
1. Kekuatannya rendah
2. Berat jenis rata-rata 1000 kg/m3
3. Bersifat hidrolik 4. Dapat terbawa arus, dll.

2.2. Semen Pozollan Semen Pozollan adalah bahan ikat yang mengandung silika amorf, bila dicampur dengan kapur dan air akan membentuk benda padat dan keras. Bahan yang tergolong pozollan antara lain: teras, semen merah,abu terbang, dan bubukan terak tanur tinggi (SK. SNI T-15-1990-03:2)
2.3. Semen Portland Menurut ASTM C-150-1985, semen portland adalah semen hidrolik yang dihasilkan dengan menggiling klinker yang terdiri dari kalsium silikat hidrolik, yang umumnya terdiri dari satu atau lebih bentuk kalsium sulfat sebagai bahan tambahan yang digiling bersama-sama dengan bahan utamanya.

Semen portland yang digunakan di Indonesia harus memenuhi syarat SII.0013-81 atau Standar Uji Bahan Bangunan Indonesia 1986. Semen merupakan bahan ikat yang penting dan banyak digunakan dalam pembangunan fisik di sektor pekerjaan sipil. SIFAT DAN KARAKTERISTIK SEMEN PORTLAND Semen dapat dibedakan berdasarkan susunan kimianya dan kehalusan butirnya. Perbandingan bahan-bahan utama penyusun semen portaland adalah: kapur (CaO) sekitar 60-65%, silika (SiO2) sekitar 20-25%, dan oksida besi serta alumunium (Fe2O3 dan Al2O3) sekitar 7-12%.

Sifat semen dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sifat fisika dan sifat kimia.
1. Sifat Fisika Sifat-sifat fisika semen portland meliputi kehalusan butir, waktu pengikatan, kekuatan tekan, panas hidrasi dll. - Kehalusan Butir (fineness) Kehalusan butir semen akan berpengaruh pada proses hidrasi, waktu pengikatan (setting time), makin halus butiran semen, maka proses hidrasinya semakin cepat, sehingga kekuatan awal tinggi tetapi kekuatan akhir akan berkurang. Kehalusan butir semen yang tinggi dapat mengurangi terjadinya Bleeding.
- Kepadatan (density) Berat jenis semen yang disyaratkan oleh ASTM adalah 3.15 Mg/m3 =3,150.00 kg/m3. Berat jenis semen berpengaruh pada proporsi semen dalam campuran beton. Pengujian berat jenis semen dapat dilakukan dengan alat “Turbidimeter” dari Wagner. - Waktu Pengikatan (setting time) Waktu ikat adalah waktu yang diperlukan semen untuk mengeras, terhitung sejak berekasinya air dan menjadi pasta semen cukup kaku menahan tekan. - Panas Hidrasi Panas hidrasi adalah panas yang terjadi pada saat semen bereaksi dengan air. Dalam pelaksanaan, perkembangan panas ini dapat menimbulkan retakan pada saat pendinginan.Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan pendinginan melalui perawatan (curing) pada saat pelaksanaan.

2. Sifat Kimia. Komposisi kimia pada semen portland akan berpengruh pada sifatnya. Di Indonesia tipe semen portland dibedakan menjadi lima (SK SNI T-15-1990-03:2) sebagai berikut: - Tipe I, semen portland yang dalam penggunaannya tidak memerlukan persayatan khusus seperti jenis-jenis lainnya. - Tipe II, semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi sedang.

- Tipe III, semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan kekuatan awal yang tinggi dalam fase permulaan setalah pengikatan terjadi. - Tipe IV, semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan panas hidrasi rendah - Tipe V, semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan tinggi terhadap sulfat.

AGREGAT (BUTIRAN)
Dari pengalaman menunjukkan bahwa kandungan agregat dalam campuran beton sangat tinggi sekitar 60-70% dari berat campuran beton. Walaupun agregat hanya berfungsi sebagai pengisi tetapi karena komposisinya cukup tinggi, maka karaktiristik agregat perlu dipelajari. Agregat yang dipergunakan dalam campuran beton dapat berupa agregat alam dan agregat buatan (artificial aggregates). Secara umum agregat dapat dibedakan menurut ukuran butirnya, yaitu agregat kasar dan agregat halus. Di dalam (SK SNI T-15-1990-03:1) disebutkan bahwa, - agregat halus adalah pasir alam sebagai hasil desintegarsi secara “alami” dari batu atau pasir yang dihasilkan oleh industri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir terbesar 5,0 mm.

-agregat kasar, adalah kerikil sebagai hasil disintergarasi secara “alami” dari batu atau batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir antara 540 mm.

AIR
Air yang dipakai untuk membuat campuran beton dan perawatan beton setelah mengeras harus memenuhi syarat sebagai berikut: 4. Air tawar yang dapat diminum, 5. Air yang bersih dan tidak mengandung minyak, asam, alkali, garam, zat organis atau bahan yang lain yang dapat merusak beton atau tulangan.

BAHAN TAMBAHAN KIMIA
Bahan tambahan kimia adalah semua bahan yang ditambahkan pada saat pembuatan spesi beton,dengan tujuan memperbaiki sifat-sifat tertentu campuran beton. Secara umum dapat diuraikan bahwa semua pekerjaan untuk berbagai jenis konstruksi sebaiknya mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: g. bahan-bahan beton mudah dicampur h. Spesi beton mudan dilaksakan pengecorannya i. Mempunyai kekuatan tekan hancur yang tinggi j. Mudah diselesaikan k. Mempunyai kerapatan yang baik terhadap air

f. mempunyai ketahanan terhadap pengaruh kerusakan g. Mempunyai keawetan yang cukup lama Untuk memenuhi ketentuan di atas, maka dalam pelaksanaan pencampuran bahan-bahan beton sering diberi bahan tambahan kimia (chemical addmixture) (ASTM C494-91) seperti di bawah ini: Type A:--- Water reducing admixture, bahan tambahan mengurangi jumlah air pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan beton yang konsistensinya tertentu. Type B:--- Retarding admixture, adalah bahan tambahan kimia yang berfungsi menghambat pengkatan beton

Type C:--- Accelerating admixture, adalah bahan tambahan kimia yang berfungsi mempercepat pengikatan dan pengembangan kekuatan awal beton. Type D: -- Water reducing and retarding admixture, adalah bahan tambahan yang berfungsi ganda yaitu mengurangi jumlah air pencampuran dan menghambat pengikatan beton. Type E:--- Water reducing and accelerating admixture Type F:--- Water reducing, high range admixture Type G:--- Water reducing, high range and retarding admixture

2 comments:

Putu Sukma Kurniwan said...

Saya masih bingung mengenai admixture pada beton. Adakah suatu aturan penambahan admixture pada campuran beton? Karena sekarang banyak dipakai admixture superplastisizer pada campuran beton. Terimakasih atas penjelasannya

Radi WIjaya, ST said...

Terima Kasih Telah Komentar...
Sepengetahuan saya aturan penambahan admixture superplastisizer (zat kimia) itu belum saya ketahui. tetapi para produsen beton indonesia mungkin telah melewati beberapa kali pengujian terhadap kuat tekan beton yang ditambahkan zat kimia seperti ini dan hasilnya sama dengan hasil kuat tekan mix design yang biasa kita lakukan di kuliah.
Mereka memakai admixture superplastisizer karena menghemat waktu pengeringan terhadap campuran beton dan juga menghemat bahan2 material sehingga lebih ekonomis dan pekerjaan cepat selesai. Menurut saya begitu aja...kalau ada info baru kasih tau ya...biar kita tukar informasi.
Terima Kasih